Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2016

Tidak Ada Istirahat di Jalan Perjuangan

Alkisah seorang sahabat senior yang sudah sangat tua umurnya, lemah badannya, tertatih jalannya, ditegur oleh seorang muda yang merasa kasian ketika melihatnya. Sahabat senior tersebut dengan segala keterbatasannya masih semangat untuk berjihad fi sabilillah, padahal umurnya sudah mendekati satu abad. Ia merupakan seorang yang tak pernah absen dalam jihad fii sabilillah, kecuali pada satu waktu ketika ia izin untuk menunaikan ibadah haji. Telah banyak perjuangan dan pengorbanannya untuk tegaknya agama Islam. Kini ketika usianya menua, sudah sepantasnya ia menikmati istirahat yang nyaman. Mempergilirkan tongkat perjuangan kepada generasi di bawahnya. Dan itulah yang ada di pikiran si anak muda. Menurutnya, dan memang semua orang secara umum ketika itu berpendapat begitu—bahkan Yazid bin Muawiyah pada episode lain juga berpendapat yang sama: sudahlah pak, Anda sudah tua, biarkan perjuangan ini jadi tanggung jawab kami yang muda, silakan Anda istirahat saja menikmati masa tua Anda. Sejujurnya kami tidak tega melihat orang setua Anda harus terjun ke medan perang….

Tapi orang tua ini tak gentar. Ia adalah seorang yang mendengar langsung Nabi  bersabda “Latuftahannal qastanthiniyyah, falani’mal amiir amiiruha, walani’mal jaisy, dzalikal jaisy”. “Sungguh akan takluk Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin penaklukkan itu, dan sebaik-baik pasukan adalah yang membersamainya”. Orang tua itu akhirnya diketahui bernama Abu Ayyub Al-Anshari, seorang yang ikut serta dalam baiat Aqabah kedua ketika usianya sekitar 47 tahun.

Melihat kegigihan orang tua tersebut, anak muda yang merasa sangat kasian melihatnya harus turun perang di umurnya yang sudah sangat tua ini kemudian mengutip ayat Al-Quran, Al-Baqarah ayat 195:
Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”

Dalam pengertian dia, ayat ini menjadi dalil agar orang tua itu “tidak menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam kebinasaan”. Tentu saja, bukankah ikut perang di usia yang sudah senja, dengan gerakan yang tak lagi segesit ketika muda, sama dengan menjatuhkan diri pada kematian? Anak muda ini begitu khawatir orang tua itu justru menjerumuskan dirinya sendiri dengan ikut perang, dan dengan dalil ayat ini ia sangat yakin sebaiknya orang tua tersebut menepi saja. Masuk akal, bukan? Seorang yang sudah sangat tua, keikutsertaannya di perang justru akan membinasakan dirinya, sementara Alquran melarang membinasakan diri sendiri, sehingga seharusnya orang tua itu tak ikut perang. Begitulah yang ada di pikiran si anak muda.

Namun alih-alih gentar, ketika anak muda itu membacakan ayat tersebut, Abu Ayyub justru gusar. Ia lalu bertanya, “wahai anak muda, tahukan kau apa makna ayat yang kau bacakan itu?”

Sebab Abu Ayyub tahu betul apa maknanya. Ia hidup dan menyaksikan sendiri bagaimana peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat 195 dari surat Al-Baqarah tersebut. Dan konteksnya sangat berbeda dengan yang dimaksud oleh si anak muda.

Ayat itu turun ketika kaum Anshar (orang-orang asli Madinah yang menerima dan terus membersamai beliau semenjak hijrah) meminta keringanan kepada Rasulullah untuk “cuti dari perjuangan—jihad fii sabiilillah”. Mereka merasa sudah terus bersetia dalam mendukung dan membantu Rasulullah beserta para Muhajirin. Mereka menyediakan tempat tinggal, menyiapkan makanan, ikut dalam semua peperangan untuk mempertahankan agama Islam, berjuang bersama-sama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pada waktu itu peperangan terjadi begitu banyaknya, dari mulai yang besar sampai yang kecil, dari mulai yang defensif mempertahankan Madinah dari gempuran musuh, sampai yang ekspansif menyerang kediaman musuh pasca perang Khandaq, dari mulai peperangan dengan perlawanan sampai peperangan tanpa kekerasan karena musuh memilih untuk menyerah duluan. Kaum Anshar ikut dalam semua proses itu, terlibat langsung sebagai salah satu tokoh utama yang berperan besar dalam meraih kemenangan.

Wajar jika kemudian mereka meminta keringanan untuk beristirahat sejenak. Alasan mereka pun sangat masuk akal: “wahai Rasulullah, kami harus mengurusi kebun-kebun kami, mengurusi keluarga-keluarga kami”. Ketika itu peperangan memang sangat banyak jumlahnya, jarak antara satu perang dengan perang berikutnya begitu pendeknya, sehingga sering kali tak memberikan jeda bagi mereka untuk beraktivitas seperti biasa. Jika mereka terus-terusan berada di medan perang, lantas siapa yang mengurusi kebun-kebun dan keluarga mereka? Bukankah aktivitas ekonomi dan keluarga tak kalah pentingnya?
Dan apa jawaban Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau hanya mengutip sebuah ayat:
Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”

Ya, ayat yang dikutip beliau adalah Al-Baqarah ayat 195, ayat yang sama yang kelak dibacakan si anak muda kepada Abu Ayyub, tapi dalam pemaknaan yang jauh berbeda. Ayat itu turun bukan sebagai pembenaran untuk menepi dari jalan perjuangan, tapi justru sebagai sanggahan atau penolakan terhadap permintaan “cuti” yang diajukan oleh kaum Anshar. Mereka memang sudah berjuang banyak, berkorban begitu dahsyat, bersetia tanpa syarat, tapi itu semua tidak bisa menjadi alasan untuk sejenak berhenti dari keikutsertaan dalam peperangan. Tidak ada urusan perizinan dalam masalah ini!
Yang dimaksud oleh ayat tersebut dengan “menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri” bukanlah berangkat perang dengan “modal nekat” seumpama Abu Ayyub dalam pandangan si anak muda, tapi yang dimaksud adalah menyengaja (yang artinya dengan sepenuh kesadaran) untuk tidak ikut serta dalam peperangan, atau dalam konteks yang lebih luas: menyengaja untuk izin dan cari-cari alasan untuk menghindar dari agenda dakwah dan perjuangan. Dan, Masya Allah, Abu Ayyub radhiyallahu ‘anhu begitu memahami ayat ini sehingga di usia senjanya masih semangat untuk berangkat perang, menegakkan kalimat Islam.

Ikhwah fillah, kisah tersebut seharusnya jadi tamparan keras buat kita. Siapa kita dibandingkan Abu Ayyub Al-Anshari? Siapa kita dibandingkan orang-orang Anshar? Betapa jauh pengorbanan dan perjuangan kita di jalan dakwah dibandingkan dengan mereka, tapi kenapa sering kali kita merasa memiliki hak untuk menepi, beristirahat menikmati diri sendiri? Betapa sering kemudian kita merasa telah berkorban banyak, lalu menganggap diri sudah tua dan menyerahkan seluruhnya kepada kawan atau orang-orang di bawah kita? Seberapa sering kita merasa jumawa, merasa yang paling mengerti dan paling berbuat banyak untuk dakwah, lalu menjadikannya alasan untuk sejenak (yang biasanya kebablasan) berhenti dari agenda perjuangan? Kita padahal baru bicara perjuangan dengan semampu kita dan belum bicara perang.

Atau jangan-jangan, kita ini memang “generasi afwan”.

“Afwan ustadz, ane gak bisa hadir liqa karena harus ngerjain tugas kuliah”. “Afwan akh ane gak bisa bantu di kepanitiaan syiar ini karena takut kecapekan dan gak bisa ngatur waktu”. “Afwan ane lagi ngurusin bisnis, belum bisa bantu-bantu di dakwah”. “Afwan dek, sekarang giliran antum yang ngurusin, ane istirahat ya karena tahun kemarin udah ngurusin banyak”. “Afwan…”

Subhanallah, dengan semua alasan yang kita kemukakan untuk menepi dari jihad fii sabilillah, tanpa sadar kita sebenarnya sedang dalam proses menjerumuskan diri kita sendiri dalam kebinasaan, sebagaimana makna yang terkandung dalam Al-Baqarah ayat 195. Jika para aktivisnya menjerumuskan diri dalam kebinasaan, pantas jika kemudian gerak perjuangan itu sendiri seolah-olah buntu dan terasa tak berkembang.
Padahal jalan perjuangan ini adalah satu-satunya jalan yang tak memiliki batas waktu, tidak seperti jam kuliah dan jam kerja. Kuliah dan kerja ada waktunya sendiri, dan ia terbatas, di luar itu kita bebas. Tapi jalan ini waktunya tak terbatas, sebagaimana curhatan Nuh ‘alaihissalam kepada Allah yang diabadikan di surat Nuh: “Ya Allah.. sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam..”. Dakwah ini menuntut 24 jam dalam sehari kita, 30 hari dalam sebulan kita, 12 bulan dalam setahun kita, dan seluruh tahun dalam umur kita, tanpa ada waktu cuti atau jeda. Karena memang tak ada waktu istirahat. “Laa raahah illaa fil-jannah”. Istirahat kita adalah di surga Allah (Aamin yaa rabbal ‘aalamiin, semoga Allah memasukkan kita ke sana). Dan mau tidak mau kita harus siap, jangan lemah dan jangan melemah-lemahkan kekuatan kita, karena sesungguhnya Allah tidak akan membebani melampaui kesanggupan kita. Hanya saja sering kali justru kita sendiri yang menurunkan standar kesanggupan kita.

Ikhwah fillah, alasan bisa dicari-cari, tapi Allah Maha Tahu apa yang ada di dalam hati. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang menjerumuskan diri sendiri ke dalam kebinasaan.

Wallahu a’lam bishshowaab

Ibrohim Abdul Halim
Dakwatuna

Selasa, 23 Februari 2016

Do'a Ku, Ya Allah Izinkan Aku Tetap Berada di Tarbiyah Ini

Aku tahu tarbiyah bukanlah jaminan untuk memperoleh JannahMu, tapi bukankah dengan tarbiyah aku mempunyai kesempatan lebih untuk memperoleh janahMu??? Tak terhitung berapa kali aku menghadiri lingkaran kecil itu, ada perasaan bahagia, rindu, sedih atau bahkan kesal. Bahagia karena aku mendapatkan ilmu lebih dan ibadahku lebih terpantau. Rindu karena mereka bukan siapa-siapaku, tetapi mereka akan selalu menjadi orang pertama yang meneguhkanku ketika aku terpuruk. Sedih karena adakalanya sesekali aku harus berpisah dengan mereka untuk memaknai kata ukhuwah. Dan kesal karena aku sering diatur dan waktuku banyak tersita.

Tarbiyah…apakah sudah menempaku menjadi orang-orang seperti dalam madrasah Nabi?? Jika tarbiyah adalah salah satu pintu kesempatan menuju janahNya, apakah aku sudah memanfaatkan kesempatan itu dengan baik? Atau jangan-jangan aku adalah salah satu orang yang merugi.

Ya Allah…Seringkali aku mengecewakan seorang insan yang rela meluangkan waktunya untukku, seseorang yang kupanggil murobbi. “Mbak afwan, ana tidak bisa liqo karena disuruh pulang.” Pernah suatu kali aku tak berangkat liqo dan aku mencari alasan untuk izin pada murobbi, mengatakan tidak bisa datang taklimat karena tugas kuliah menumpuk, besok ada mid ataupun alasan-alasan yang lain. Padahal aku tahu ikhtiar berbanding lurus dengan doa. Dan aku hafal diluar kepala “Barang siapa yang menolong agama Allah maka ia akan ditolong oleh Allah.” Mengapa kadang aku mementingkan duniaku daripada akhiratku? Apakah yang kudapatkan selama ini belum juga melembutkan hatiku? Lalu bagaimana dengan keberkahan Allah, Apakah pintu syurga itu masih terbuka untukku.

Demi Masa….Aku sering telat berangkat liqo bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali aku tidak telat. Aku sering menyepelekan ketidakindibathankku, padahal aku tahu waktu itu adalah pedang yang kapan saja jika Allah berkehendak, pedang itu akan membunuhku. Belum lagi kemaksiatan-kemaksiatan lain yang kuperbuat, zina mata, zina mulut, zina telinga, zina tangan, zina kaki dan yang lebih parah zina hati. Aku bisa sempurna menjalankan amanah dakwahku tapi bagaimanakah dengan ruhiyahku? Bagaimanakah dengan kondisi hatiku? Di luar aku adalah salah satu akhwat yang sering dielu-elukan karena profesionalitas amanahku tapi bagaimanakah pandangan adik-adikku di kos. Lalu jika mereka sinis memandangku, Bagaimanakah pandangan Allah kepadaku?

Ya Rabbi … sebenarnya aku takut tapi bukankah cinta itu fitrah. Toh apa yang kulakukan tidak melampaui batas. Aku tahu jika aku melakukan sesuatu hatiku berdebar-debar tidak tenang, cemas dan takut adalah kemaksiatan namun mengapa hatiku tak bisa mengendalikan apa yang kuperbuat. Aku seolah-olah larut, menikmati yang kuperbuat, bahkan membenarkan apa yang kuperbuat. Apa yang terjadi denganku? Apakah memang hati ini benar-benar sudah mati? Lalu masihkah engkau mengabulkan permohonanku sementara aku seenaknya membuat Mu cemburu.

Tentang ukhuwah…barangkali aku adalah salah satu orang yang belum bisa memberikan hak-hak ukhuwah pada saudaraku. Aku sering pura-pura tidak tahu jika saudaraku sedang kesulitan, bahkan hanya sekedar mengucapkan ‘barakallah’ kadang aku tak sempat. Apalagi mendoakannya. Padahal aku tahu orang-orang yang berdiri di menara cahaya dalam salah satu ruang di syurga yang membuat iri nabi dan sahabat adalah ia yang selalu mengatakan “aku mencintaimu karena Allah.” Barangkali mengapa aku tak bisa DF, membina dengan baik adalah bagian dari ketidakpandaianku mengeja kata ukhuwah dan kekotoran hatiku.

Ya Ghofur… ampuni kesalahanku. bimbing dan tuntunlah aku untuk tetap berada di tarbiyah ini. Jangan biarkan aku terjatuh karena aku masih membutuhkan mereka untuk menyempurnakan ibadahku. Lembutkan hatiku, jadikan aku orang-orang yang lebih dikenal oleh penduduk langit.

Bismillah…mulai hari ini aku akan berubah menjadi lebih baik untuk mendapatkan janahMu. (shifaqolbi)

Rabu, 02 September 2015

Ketika Ghirah tak Lagi Terasa

Masih teringat akan masa-masa kuliah beberapa tahun kemarin . Mungkinkah teman-teman yang biasanya diberi julukuan “domisioner” pada suatu organisasi mengingat akan ghirah atau semangat itu? Mungkinkah teman-teman masih merasakan ghirah yang sama setelah meninggalkan dunia kampus?
Saya berharap teman-teman pembaca masih merasakan ghirah yang sama dengan masa-masa kuliah bagi yang pernah merasakannya karena tidak sedikit saudara-saudara kita yang tidak lagi merasakan ghirah dakwah itu, setelah dia keluar dari dunia kampus, setelah dia keluar dari dunia yang mengajarkannya tentang ideologi, tentang azzam, tentang ghirah dakwah dan tentang semuanya. Tidak sedikit saudara-saudara kita yang hilang atau tidak terlihat lagi jejaknya di jalan dakwah ini setelah dia meninggalkan dunia kampus. Setelah dia masuk pada dunia kerja atau berkeluarga.
Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi cerita tentang kisah teman-teman yang mungkin mereka tidak lagi merasakan ghirah yang sama ketika masih berada pada dunia kampus. Bahkan mungkin tidak lagi merasakan atau lupa dengan ghirah itu.
Ada beberapa alasan yang dapat saya garis bawahi dari berbagi kisah mereka yang menjadi “pengantar” hingga mereka tidak lagi mersakan ghirah dakwah itu. Di antaranya adalah sebagai berikut :
  1. Untuk apa datang pengajian jika tidak menambah semangat kita?
Ukhtifillah, apakah hal ini pernah anti rasakan? Ketika kegiatan pengajianmu tidak lagi menambah semangat dakwahmu, tidak lagi menambah semangat perbaikan dirimu? Tidak memberikan “cash” untuk rukhiyahmu? Semuanya berlalu tanpa meninggalkan kesan. Maka perbanyaklah istighfar, karena mungkin ada yang kita lakukan yang tidak diridhai oleh Allah sehingga Allah tidak membuka pintu Rahmat-Nya yang menyebabkan hal itu terjadi. Mari ditata kembali niat awal kita mengikuti pengajian.
Mempertanyakan kembali arti pentingnya pengajian itu diikuti.
Merenungi sejenak tentang ibadah-ibadah yang selama ini kita lakukan.
Tentang shalat kita, mungkinkah hanya sekadar rutinitas gerakan?
Tilawah kita, mungkinkah hanya sekadar keluar dari mulut yang tidak menggetarkan hati kita? Hanya untuk mencapai setoran batasan waktu ODOJ yang kita ikuti?
Mari kita intropeksi diri dahulu sebelum kita mencari pembelaan tentang “pengajian yang katanya tidak lagi menambah semangat”.
  1. Sekarang saya tidak akrab dengan teman pengajianku, sibuk semua, tidak seperti yang dulu.
Sama halnya dengan perkembangan manusia. Ketika masih kecil maka kita akan dimanjakan oleh orang tua tapi ketika sudah dewasa maka kita tidak lagi dimanja bahkan kita yang mungkin harus memanjakan orang lain.
Seperti itulah analogi yang mungkin cocok untuk ini bahwa segala sesuatu memiliki masa tersendiri.. Ketika kita kecewa dengan sifat ustadz/ustadzah kita yang mungkin acuh atau merasa tidak diperhatikan oleh teman pengajian yang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri. Maka jangan menjadikan hal itu sebagai alasan dari keaktifan kita mengikuti pengajian karena hal tersebut hanya salah satu aspek dari pengajian itu sendiri. Dan aspek utama dari pengajian itu adalah tujuan awal kita yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan berharap mendapatkan Ridha-Nya. Jangan pernah berharap kepada manusia karena suatu saat pasti akan memberikan kekecewaan. manusia tidak luput dari salah dan khilaf.
Kedua alasan tersebut yang bisa saya garis bawahi dari beberapa alasan yang mungkin ada. Kenapa ghirah tidak terasa? Karena ketika ghirah itu masih terasa maka keluhan-keluhan tersebut tidak mungkin ada karena ketika kita ingin jujur kepada diri sendiri maka secara tidak sadar bahwa kita hanya mancari pembelaan untuk sikap kita, mencari alasan untuk membenarkan perubahan sikap kita, mencari kesalahan dari faktor luar terhadap apa yang kita rasakan padahal semuanya kembali kepada diri pribadi masing-masing.
Mari kita kembali merenungi sejenak Firman Allah dalam QS. Al-Ankabut : 2-3.
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Ujian itu akan selalu ada, baik itu dalam bentuk kenikmatan ataupun sebaliknya karena dari ujian itulah Allah akan memfilter Hamba-nya yang benar-benar bertakwa.
Setiap orang terkadang menemui “titik jenuh” dari rutinitas aktivitasnya sehingga tidak memiliki semangat dalam menjalankan aktivitasnya. Hal itu bisa terjadi ketika kita tidak lagi memiliki tujuan yang jelas dari aktivitas tersebut, semuanya dijalani seakan hanya rutinitas belaka tanpa memiliki makna dan hanya meninggalkan rasa lelah jasmani dan mungkin pada kekeringan rohani. Oleh karena itu, mari merenungi kembali tujuan kita hidup. Masihkah ada tujuan menjadi bagian dari makhluk Allah yang ada dalam QS. Al-Imron : 104
“ dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,merekalah orang-orang yang beruntung”
Saya akhir tulisan ini dengan mengutip syair lagu Saujana “Sekeping Hati”
Tapi, jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap, menunggu mangsa
Note : Untuk saudariku yang sedang berjuang melawan titik jenuhnya….

http://www.dakwatuna.com/2015/09/02/74005/ketika-ghirah-tak-lagi-terasa/


Jumat, 06 Maret 2015

Sepelik Inikah Ukhuwah Kita?

“Abu Bakr bersimpuh lalu menggenggam tangan sang Nabi. Ditatapnya mata suci itu dalam-dalam. ‘Antara aku dan putra Al-Khattab,’ ada kesalahpahaman. Lalu dia marah dan menutup pintu rumah. Aku merasa menyesal. Maka kuketuk pintunya, kuucapkan salam berulangkali untuk memohon maafnya. Tapi, dia tidak membukanya, tak menjawabku, dan tak juga memaafkanku.’

Tepat ketika Abu Bakr berkisah, ‘Umar ibn Khattab datang dengan resah. ‘Sungguh aku di utus pada kalian,‘ sang nabi bersabda, lalu kalian berkata, ‘Engkau dusta!’

Wajah beliau tampak memerah, campuran antara murka dan rasa malunya yang lebih dalam dibanding gadis dalam pingitan.

‘Hanya Abu bakr seorang,‘ sambung beliau, ‘yang langsung mengiyakan, ‘Engkau benar ! ’lalu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Masihkah kalian tidak takut pada Allah untuk menyakiti sahabatku?’

‘Umar berlinang, beristighfar dan berjalan bersimpuh mendekat. Tetapi tangis Abu Bakr lebih keras, derai air matanya bagai kaca jendela lepas. ‘Tidak ya Rasulullah. Tidak. Ini bukan salahnya,‘ serunya terpatah-patah isak. ‘Demi Allah akulah yang memang yang keterlaluan.‘ lalu dia pun memeluk ‘Umar, menenangkan bahu yang terguncang. Mereka menyatukan rasa dalam dekapan ukhuwah, menyembuhkan luka.“

(Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A Fillah)

***

Insan-insan terbaik ini pun tak lepas dari uji an dalam ukhuwah mereka. Dan begitu pun kita. ukhuwah, atmosfer yang terkadang berganti. Menyengat, menyayat hati hingga sesekali menghalau air mata yang menandakan kesedihan. Sungguh ini sebuah cambuk kecil untuk memikirkan ulang dalam merekatkan kembali ukhuwah kita.

Kita ini terlalu naif jika dibandingkan dengan keadaan generasi salaf. Suatu masyarakat yang dibangun dengan penuh kehangatan, cinta, dan ukhuwah. tidak ada kepura-puraan ataupun keegoisan. Allah dan Rasul-Nya selalu menjadi tempat kembali di saat perselisihan tak mungkin dielakkan. Alhasil, semua berakhir indah dalam bingkai ikatan aqidah.

Aku, kamu, kita… butuh waktu untuk sendiri. Diam dan tenggelam dalam-dalam pada tiap detik masa lalu yang telah kita lalui. Sepelik inikah ukhuwah kita hari ini? Selemah inikah kita menjaga saudara kita? Atau… semudah inikah kita menyalahkan dia tanpa bercermin pada cermin yang bening, bukan dengan cermin yang penuh bercak. Hingga yang terburuk adalah menjadikannya seperti pesakitan.

Kita begitu berharap mampu mempertahankan istana dengan harta benda yang berlimpah. Namun di benteng pertahanan, kita tidak melengkapi prajurit kita dengan senjata dan perbekalan yang memadai. Maka jangan pernah berharap istana nan kokoh itu akan abadi menjadi milik kita.

Karena saudaramu adalah amanahmu… Ia tak hadir dengan sempurna, seperti dirimu yang menyembunyikan jutaan rahasia.

“Mungkin saatnya kita membenahi dulu rasa yang ada dalam hati kita. Masih beningkah ia? Karena sesungguhnya suasana tidak berubah, hanya mungkin ruhiyah kita, akhlak kita, keikhlasan kita yang berubah. Setelah kita membenahi apa yang ada dalam hati kita, bashirah akan menuntun langkah kita dalam dakwah” nasehat dari salah satu sahabat terbaik.

Tidak ada sesuatupun yang naik ke langit yang lebih agung dibanding keikhlasan

Dan tidak ada sesuatupun yang turun ke bumi yang lebih agung dari taufiq Allah

Mungkin saja Allah masih enggan menurunkan taufiq-Nya ke bumi karena hati-hati kita masih saja tersekat prasangka yang tak beralasan, keegoisan yang membuntukan atau nafsu dunia yang melenakan sehingga pintu-pintu langit masih tertutup rapat untuk kita. Saat ukhuwah tak lagi menawan, coba periksa kondisi iman. Mungkin ia kusam karena prasangka, hasad, cinta dunia atau rapuhnya keikhlasan.

“Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami. Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami. Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri . Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti “. (K.H. Rahmat Abdullah)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain…”(QS. Al Hujurat ; 12)

Indah Yuliana
Dakwatuna

Minggu, 09 Februari 2014

Yang Terlahir dari Kesendirian


Suatu nikmat yang besar dari Allah manakala kita termasuk dalam segolongan kecil umat manusia yang memiliki kepedulian terhadap dakwah. Meski kontribusi kita terhadap dakwah ini teramat belum memadai. Sehingga medan dakwah ini sebagian besar masih berupa padang luas yang belum terjamah,  masih ditelantarkan, padahal sebenarnya memendam potensi yang amat berharga.

Kepergian ini mungkin terasa lebih berat andai kami tahu sepeninggal beliau hari-hari yang akan kami jalani bagai tanpa keberadaan seorang murabbi. Baru dua tahun beliau sekeluarga merintis dakwah di tempat kami, semenjak bertugas di tempat terpencil ini. Sebenarnya kami ikut senang ketika mendengar kabar beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya. Rasa kehilangan itu pasti ada, meski sedikit terobati oleh harapan bahwa sepeninggal beliau kelak, akan ada murabbi lain yang menggantikannya.

Nyatanya tahun-tahun berlalu sesudah kepergian beliau, kami seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Terkadang dalam waktu sekian bulan baru kami bisa berjumpa dengan murabbi. Dulu kami mendapatkan kisah tentang para pendahulu kami, berjalan kaki Solo-Wonogiri pada malam hari sekedar untuk mengikuti liqo’, namun azzam yang kami miliki tak sebanding dengan mereka. Kadang-kadang kami masih bermalas-malasan untuk sekedar berangkat liqo’, masih butuh orang yang tak bosan-bosan mensupport dan menyemangati kami tuk terus berada di jalan dakwah ini.

Tanpa keberadaan murabbi di samping kami, satu per satu dari kami pergi meninggalkan halaqoh. Dengan berbagai sebab, semata-mata futur, menikah, pindah domisili, atau pindah ke harakah lain. Hingga dalam satu kecamatan ini tersisa tiga ikhwan yang mengikuti liqo’ ditambah seorang dari kecamatan tetangga.

Sebenarnya daerah ini tak lagi terlalu terpencil secara geografis. Namun di balik keindahan alamnya, daerah ini bagaikan padang tandus yang gersang bagi tumbuhnya harakah-harakah, bukan hanya tarbiyah. Hanya satu dua orang di daerah ini yang merantau atau kuliah kemudian bersentuhan dengan harakah-harakah itu. Kemudian kebanyakan dari mereka memilih berdomisili, menikah atau bekerja di luar, sedang yang pulang ke kampung halamannya, rata-rata menjadi vakum atau setidaknya semangatnya mengendur.

Di balik kesuburan tanahnya, minat penduduk di daerah ini untuk menempuh pendidikan tinggi menjadi rendah. Beberapa dekade lalu, pegawai dan guru yang mengajar di sini didominasi pendatang dari daerah lain seperti Yogyakarta, Klaten, Kebumen, Grobogan dan beberapa daerah yang minus. Dari daerah-daerah dimana mereka berhadapan dengan kondisi alam yang keras dan tantangan hidup yang sulit, membuat mereka memiliki motivasi kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Pernah seorang guru bercerita tentang pengalamannya mengajar di suatu daerah yang teramat subur, kemudahan untuk mencari penghidupan membuat siswa-siswa di sana seperti tak memiliki motivasi belajar.

Daerah ini tak sempat terkena efek booming harakah-harakah yang terjadi di kota-kota dan kampus. Baru pada Tahun 2007 kami kedatangan murabbi yang menetap bersama kami, halaqoh ini baru mulai menggeliat. Menjelang Pemilu 2009 perpisahan itu terjadi. Melengkapi kepergian orang yang membimbing kami, pada Pemilu 2009 itu kami juga kehilangan kursi di dewan. Sebelumnya pada Pemilu 2004, kami memiliki anggota dewan yang berasal dari eksternal, akibat kekecewaan demi kekecewaan yang kami rasakan kemudian kami mengusung kader sendiri, dan ternyata memang belum mampu.

Lengkap sudah kesendirian kami, nyaris tanpa aspirasi dan tanpa murabbi. Namun yang sebenarnya lebih mendasar mungkin adalah ketsiqahan dan azzam kami yang masih teramat lemah, kami bukan siapa-siapa, kami masih anak-anak yang sekedar mencoba bertahan di halaqoh ini sembari menyaksikan teman-teman kami satu per satu berguguran dari jalan ini. Sementara di masyarakat dakwah kami juga nyaris terhenti, beberapa masjid di desa pelosok yang kami bantu pembangunannya, tanpa diikuti pembinaan lebih lanjut.

Dari puing-puing yang tersisa, semoga asa ini tetap terjaga. Dari kesendirian ini semoga menjadikan kami sempat memungut apa yang terluput dari derap langkah saudara-saudara kami di depan sana. Dari kesunyian ini semoga kami bisa mengais apa yang terlewatkan dari hiruk pikuk mereka yang berada di garis depan. Sekedar menopang ketika mereka goyah, menyisakan bekal ketika mereka kehabisan dan lelah.

Dari ketertinggalan kami semoga menumbuhkan keinginan untuk melangkah lebih cepat. Dari kejatuhan ini, hami berharap terperosok pada telaga hikmah yang sempat terlewatkan oleh para penempuh jalan.

Bukankah mahalnya nilai muasis sebelum kita adalah dari kesendirian mereka. Tatkala mereka melangkahkan kaki, memulai dari seorang diri. Tanpa memedulikan jauhnya cita yang dituju, namun bagaimana langkah itu terus melaju. Perjalanan itu menjadi lebih bernilai daripada apa yang diterima para pewaris kejayaan, penerima estafet kebesaran, sekalipun mereka melangkah dalam gegap gempita.

Dari apa yang terlewatkan, semoga ada sisi-sisi lain yang kami bisa lakukan, sekecil apa pun. Sekedar menjadi kerikil kecil yang berarti, setitik debu di jalan Allah atau setetes embun di jalan dakwah.

Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2013/12/23/43692/yang-terlahir-dari-kesendirian/

Minggu, 01 Desember 2013

Kerikil Kecil yang Berarti





dakwatuna.com - Berada di sini bukanlah kebetulan semata bukan juga karena tidak disengaja, ini sudah menjadi bagian dari skenario-Nya.

Bertemu denganmu di sini sebuah kemestian, bersama denganmu beserta dakwah ini adalah suatu keharusan, tidaklah mudah menempuh perjalanan panjang jika hanya seorang diri, jika perjalanan yang akan dilalui penuh dengan tantangan yang tidak pernah akan ada habisnya, perjalanan panjang yang tidak semua orang menghendakinya, yang tidak semua orang menyukainya, perjalanan panjang yang tidak semua orang mau berada di sana dan perjalanan panjang yang tidak semua orang diizinkan berada di sana.

Dakwah ini tidak kenal henti, dengan atau tanpa kita, dakwah ini akan terus berjalan hingga muaranya.

Dakwah ini akan terasa amat sangat berat jika dijalani seorang diri, dakwah ini akan terasa menjadi beban berat ketika dipikul sendiri… oleh karena itu kita dipertemukan disini, untuk saling menguatkan, saling mengokohkan, kita berada disini menyertai orang-orang yang lebih dulu berada disini, kita disini menjadi salah satu yang ikut serta membawa batu bata untuk bangunan dakwah ini, harusnya kita menjadikan dakwah ini menjadi semakin kuat dengan keberadaan kita disini, harusnya kita menjadi salah satu dari sedikit orang yang akan bersedih jika dakwah ini berhenti disini, sekarang, saat ini juga, mestinya kita menjadi salah satu dari sedikit orang yang akan ikut meyumbangkan tenaga, pikiran, keringat, bahkan harta dan jiwa dijalan ini tidak lain hanya untuk kemenangan dakwah ini.

Tidak inginkah kita ikut menjadi orang yang akan tersenyum bangga ketika dakwah ini Berjaya di muka bumi?

Iya…

Tepat sekali jawaban yang selalu terucap dengan ringannya dari lisan kita, namun beginilah fenomena saat ini kebanyakan kita memang sadar namun kurang menyadari, peran kita di sini, saat ini.

Ketika yang kita harapkan adalah pujian dari manusia semata, maka saat ini juga silakan menepi dan cukup jadi penonton, yang hanya bisa berkomentar saja, tanpa ia sadari betapa meruginya ia.

Betapa manisnya jika perjalanan ini dibalut dengan ukhuwah yang mantab, ukhuwah yang kokoh hingga mengakar dalam jiwa, subhanallah jika membayangkan saja sudah sangat menyejukkan, namun terkembali pada realita yang ada kita cenderung selalu menyalahkan selalu mempertanyakan ukhuwah itu sendiri?

Hallow ada apa?

Mengapa harus ukhuwah itu yang kita pertanyakan? Harusnya yang berukhuwah itu yang dipahamkan…

Ketika kita berani berukhuwah, harusnya kita sudah paham resiko yang akan dihadapi, harusnya kita mengerti konsekuensi yang akan datang menguji ukhuwah itu sendiri.

Dalam berukhuwah pahamilah bahwa saat ini kita sedang belajar, belajar banyak hal yang tidak kita dapatkan ketika kita tidak berukhuwah.

Jangan jadikan amanah sebagai alasan kita mempertanyakan ukhuwah, jangan jadikan ego kita sebagai tolak ukur keberadaan ukhuwah, jangan jadikan kelemahan dan kekurangan saudara kita sebagai alasan kita menilai ukhuwah.

Akhirnya nanti sudah mulai terlihat, akankah kita mundur saat ini?

Hidup penuh dengan pilihan,  sekarang pilihan ada di tangan kita, memilih atau tidak juga sebuah pilihan, dan yang pasti kita akan selalu dihadapkan dengan pilihan, pilihan dan pilihan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kita tetap harus memilih ketika kita tidak menentukan pilihan maka orang lain yang akan menentukan pilihan kita.

Wallahualam…